Bertepatan dengan Hari Kependudukan Dunia pada 11 Juli 2013, United Nations Fund for Population Activities (UNFPA) mengumumkan fokus hari kependudukan dunia adalah kehamilan remaja. Kehamilan di usia remaja dapat membahayakan kesehatan karena tingginya resiko komplikasi kehamilan, cacat, bahkan kematian. Tidak hanya permasalahan kesehatan, kehamilan remaja juga menjadi isu Hak Asasi Manusia. Kehamilan remaja sering berarti akhir yang mendadak dari masa kecil, pembatasan pendidikan, dan hilangnya kesempatan.

             Kehamilan remaja dapat disebabkan karena pernikahan di usia dini ataupun perilaku seksual dan kehamilan tidak dikehendaki. Berdasar data hasil survei BKKBN tahun 2012, angka perempuan menikah usia 10-14 di Indonesia sebesar 4,2 persen. Sementara perempuan menikah usia 15-19 tahun sebesar 41,8 persen. Sehingga total anak perempuan menikah dibawah 20 tahun ada 45 persen. Sangat tinggi.

              Plan Indonesia, organisasi kemanusiaan yang fokus pada perlindungan dan pemberdayaan anak, menyampaikan hasil temuannya mengenai pernikahan dini. Plan mencatat, 33,5 persen anak usia 13-18 tahun pernah menikah, dan rata-rata mereka menikah pada usia 15-16 tahun.  Pada tahun 2008 Bappenas mengungkapkan bahwa 34,5 persen dari 2.049.000 perkawinan tahun 2008 adalah perkawinan anak. Studi ini menunjukkan lima faktor yang memengaruhi perkawinan anak, yaitu perilaku seksual dan kehamilan tidak dikehendaki, tradisi atau budaya, rendahnya pengetahuan kesehatan reproduksi dan tingkat pendidikan orangtua, faktor sosio-ekonomi dan geografis, serta lemahnya penegakan hukum.

         Apabila diruntut lebih jauh, ada upaya yang dapat dilakukan untuk menekan angka kehamilan remaja. Yaitu dengan melakukan pencegahan perkawinan usia dini.

Dasar hukum :

Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tentang batas usia melangsungkan perkawinan

Pasal 29 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tentang Perkawinan tentang batas usia melangsungkan perkawinan

Mengapa Perkawinan Dini Harus Dicegah?

Pernikahan dini nyatanya membawa dampak buruk bagi anak perempuan:

1.    Rentan KDRT

Secara psikologi pernikahan dini berpengaruh pada kondisi mental yang masih labil serta belum adanya kedewasaan dari si anak. Dikhawatirkan, keputusan yang diambil untuk menikah adalah keputusan remaja yang jiwa dan kondisi psikologisnya belum stabil. Jadi keputusannya bukan orang dewasa yang belum menyadari bahwa menikah adalah suatu keputusan besar dimana akan menimbulkan hak dan kewajiban dalam perkawinan yang dijalaninya.

Dari sisi ekonomi, perkawinan yang dilakukan di bawah umur sering kali belum mapan dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Sehingga ini pun dikhawatirkan akan menjadi penyebab timbulnya kekerasan dalam rumah tangga.

Menurut temuan Plan Indonesia, sebanyak 44 persen anak perempuan yang menikah dini mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dengan tingkat frekuensi tinggi. Sisanya, 56 persen anak perempuan mengalami KDRT dalam frekuensi rendah.

2. Risiko Kesehatan

Banyaknya kasus kesehatan terhadap remaja yang terpaksa melakukan pernikahan usia muda terutama wanita adalah, anemia,komplikasi serta mengakibatkan kematian ibu saat melahirkan juga terjadi perdarahan saat persalinan. Selain itu, wanita yang hamil pada usia muda berpotensi besar untuk melahiran anak dengan berat lahir rendah, kurang gizi dan anemia.

Salah satu dampak pernikahan dini adalah rawan melahirkan anak kerdil atau anak stunting. Dalam masa pertumbuhan, anak kerdil ini bakal tampak terlambat ketimbang anak normal. Bisa terlihat dari tinggi badan, berat badan, hingga ukuran tubuh. Paling bahaya adalah volume otak anak kerdil bakal lebih kecil ketimbang anak normal. Itu bisa berdampak pada rendahnya kualitas intelegensia anak. Selain itu, anak kerdil rawan menderita penyakit. Bahkan penyakit yang beresiko tinggi, seperti jantung dan diabetes.

3. Risiko Kematian

Selain tingginya angka KDRT, perkawinan dini berdampak pada kesehatan reproduksi anak perempuan. Secara medis menikah di usia tersebut dapat mengubah sel normal (sel yang biasa tumbuh pada anak-anak) menjadi sel ganas yang akhirnya dapat menyebabkan infeksi kandungan dan kanker. Sedangkan untuk kebidanan, hamil di bawah usia 19 tahun tentunya sangat beresiko pada kematian. Terlebih secara fisik remaja belum kuat yang pada akhirnya bisa membahayakan proses persalinan. Anak perempuan berusia 10-14 tahun memiliki kemungkinan meninggal lima kali lebih besar, selama kehamilan atau melahirkan, dibandingkan dengan perempuan berusia 20-25 tahun. Sementara itu, anak yang menikah pada usia 15-19 tahun memiliki kemungkinan dua kali lebih besar.

4. Terputusnya Akses Pendidikan

Di bidang pendidikan, perkawinan dini mengakibatkan si anak tidak mampu mencapai pendidikan yang lebih tinggi. Hanya 5,6 persen anak kawin dini yang masih melanjutkan sekolah setelah kawin.

Menyikapi Fenomena Perkawinan Dini : Sosialisasi Pencegahan Perkawinan Dini

   Untuk mencegah semakin bertambahnya perkawinan dini, BKKBN akan terus memperluas sosialisasi bahaya pernikahan dini. Termasuk meminta peran media untuk menyebarluaskan informasi ini. Pemberdayaan anak perempuan bisa mencegah terjadinya pernikahan di bawah umur.

       Plan Indonesia menambahkan, program pemberdayaan ini memberikan hasil optimal dengan juga melibatkan ayah, saudara laki-laki, dan suami. Tak hanya perempuan, laki-laki juga perlu dilibatkan dalam menciptakan kesetaraan jender. Program pemberdayaan tersebut meliputi ekonomi keluarga, advokasi, pendidikan dan penelitian tentang pernikahan dini, serta kampanye pemberdayaan dan partisipasi anak perempuan.